Metode Disiplin: Mengapa Bukan Time-Out?


Sejujurnya, kami tidak pernah menyarankan disiplin time-out KECUALI, orangtua diajari terlebih dahulu dibawah pengawasan KETAT kami. Mengapa? Karena salah time-out justru akan memperparah perilaku anak dalam jangka panjang dan merusak hubungan orangtua-anak. Beberapa alasan kuat lain adalah:

1. Pelaksanaan timeout terdiri dari beberapa langkah yang sistematis dan cukup rumit. Butuh panduan ahli untuk prakteknya.
2. Kadang, timeout malah dijadikan sebagai hukuman. Akhirnya yang tertanam dalam pikiran anak bukannya evaluasi diri, malah sebal bahkan marah kepada orangtua
3. Anak merasa hanya dicintai ketika berlaku baik saja dan ditinggalkan justru di saat ia butuh ditemani
4. Membuat perilaku agresif semakin meningkat karena anak merasa diabaikan
5. Dalam PCIT pun, timeout menjadi “senjata” terakhir untuk mendisiplinkan anak karena koneksi adalah fondasinya.

Sebenarnya, awal munculnya timeout ini bertujuan untuk melindungi anak dari kemungkinan dilukai oleh orangtua secara fisik maupun verbal, makanya "diamankan" ke tempat tertentu (sumber: buku Disiplin Tanpa Drama karya Daniel Siegel, MD dan Tina Payne Bryson, Ph.D) .

Sekarang ada alternatif lain, justru ayah ibu diharapkan tetap dampingi anak saat sedang meluapkan perasaannya. Saat anak lihat orangtua tetap tenang, lama lama ia akan belajar "ohya perasaan ga enak ini pasti akan berlalu, aku hanya perlu tenang, tarik napas dan curhat aja ke mama papa"

Justru, ayahbundanya yg wajib timeout kalau kesabaran udah mulai tipis..ingat, ada sepasang mata kecil sedang mengamati kita. Sedang belajar cara meregulasi emosi ❤❤

Jika ayah bunda butuh tahu tata-cara pelaksanaan time out yang tepat dan benar bisa berkonsultasi langsung dengan psikolog kami yang memiliki lisensi sebagai terapis Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) dgn teknik timeout dengan terstruktur dan sistematis yang sangat diawasi.

Bersama kita bisaa, semangat yaa ayah bunda! 💪💪

Psikolog Anak @belindagustya

Posted By

0 comments