Disiplin Yang "Auto-Pas" Buat anak


Dalam pengasuhan anak, kita seringkali mendengar kata konsisten. Bahwa konsisten itu penting diterapkan dalam pendisiplinan agar anak mengetahui ada aturan yang tidak bisa dilanggar anak. Sayapun setuju, untuk beberapa kondisi. .

Misalnya ketika kondisinya membahayakan dan menganggu hak orang lain maka orangtua wajib konsisten pada aturan. Namun, jangan lupakan konteks dalam penerapan disiplin. Jangan sampai konsep konsistensi berubah menjadi kaku. .

Kadang ada momen dimana konsistensi ini perlu sedikit sentuhan fleksibilitas, tergantung kondisinya. Misalnya dalam kondisi anak yang ingin main lebih lama dengan kakek-neneknya karena kakek nenek jarang datang ke rumah padahal sudah waktunya bikin PR. Kita bisa tetap konsisten dengan aturan kerjakan PR, tapi bisa lebih fleksibel. Ajak anak diskusi ok boleh tunda kerjakan PR, tapi perlu sepakat untuk tentukan waktu yang pas kapan harus selesaikan PRnya.

Atau saat anak usia 6 tahun mimpi buruk dan merajuk ingin tidur bersama orangtua karena takut. Bisakah kita lebih fleksibel? Special untuk malam ini menemani ia sampai tertidur di kamarnya dan kembali ke kamar orangtua saat anak terlelap tentu bukan ide yang buruk.

Dengan prinsip konsisten tapi luwes anak jadi belajar bahwa terkadang orangtua akan mempertimbangkan dengan bijaksana semua faktor yang terlibat dalam membimbing anak (ingat loh, disiplin artinya “to guide”). Bahwa terkadang saat kita mendisiplinkan anak, kita perlu mencari cara lain untuk mencapai target kita, sehingga anak memahami esensi dari aturan yang kita terapkan. Saatnya mulai mencoba berdisiplin dengan penuh cinta dan tanpa drama ❤

Salam,

Belinda Agustya, M.Psi., Psikolog

Ide tulisan dari buku Disiplin Tanpa Drama karya Daniel J. Siegel,MD dan Tina Payne Bryson,Ph.D

Posted By

0 comments