Gengsi Bicara Tentang Perasaan Dengan Anak



Kisah tentang Ibu X:
“Saya dibesarkan di keluarga militer. Ini jadi membuat saya gak terlalu suka bicara tentang perasaan. Saya dokter hewan dan seorang yang suka sekali memikirkan solusi konkrit dari semua hal. Karena saya tipe orang yang selalu fokus pada solusi konkrit dan terencana, berempati pada hal-hal yang bersifat perasaan membuat saya tidak nyaman dan tidak biasa”

Saat anak saya nangis atau lagi kesel, saya mencoba berbagai cara untuk membuatnya tenang agar saya bisa kasih solusi konkrit dari masalah dia.

Seringkali nih, respon saya ini malah justru membuat anak saya makin lebay nangisnya, yang kemudian membuat saya menjauh sebentar dan mencueki aja sampai dia tenang sendiri.

Baru-baru ini saya belajar tentang penting koneksi secara emosional terlebih dulu. Awalnya saya gak ngerti deh maksudnya apa. Sekarang kalau anak saya sedang marah-marah, kesal gak jelas, saya peluk dulu, dengarkan dia dan bahkan bantu dia “mengeluarkan” ceritanya dengan cara merefleksi perasaan dia (co. “pasti gak enak rasanya digituin”, “kamu keliatan kesel mukanya”, “keliatan muka kamu gk suka pas mama bilang...”) tanpa banyak bertany “kenapa sih?”, “mau apa?”. Setelahnya, baru deh kita sama-sama ngobrol tentang solusi. Sekarang saya selalu ingat, bahwa dengan anak yng sedang menampakkan emosinya, koneksi dulu dari hati ke hati, baru kemudian memikirkan solusi.

Butuh latihan memang, tapi saat saya berkoneksi secara emosi dulu baru kemudian solusi, hubungan kami jadi terasa lebih smooth dan lebih “ringan”, saya tidak merasa parenting hal yang berat atau beban. Saya paham sejak dulu saya hanya fokus pada solusi dan mengabaikan aspek perasaan anak saya.

Sumber cerita: 
The Whole Brain Child
Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson

Posted By

0 comments