Bahagia Hakiki Versi Anak


Kalau kita pikir, jika dengan hadiah materil anak jadi bahagia...mungkin bisa tapi tidak bertahan lama.

Coba kita pikirkan lagi..
Keinginan-keinginan material seperti mau mainan lagi, mau ke mall lagi, mau ini dan itu seringkali merupakan “pelampiasan” dari kebutuhan-kebutuhan emosional mendalam yang belum terpenuhi. Seperti, kebutuhan untuk diakui keberadaannya, dihargai dan diterima kekurangannya lalu dibantu untuk mengatasinya. (Klik #7KebutuhanEmosionalAnak untuk tahu apa saja)

Seringkali kebutuhan-kebutuhan emosional anak ini justru kita pikir bisa kita penuhi dengan memberikannya hal-hal yang bersifat material. Seperti, kita merasa bersalah selalu pulang larut malam, lalu sebagai gantinya kita membelikan dia mainan. Hal ini menjadi kebiasaan kemudian setiap kali kita merasa tidak punya waktu bermain yang cukup dengan anak, kita otomatis berpikir bisa “mengganti” waktu yang hilang dengan hanya mainan.

Tidak ada yang salah dengan membelikan mainan. Mainan akan menjadi media penting jika dipakai dengan tepat. Tapi akan menjadi tidak tepat kalau kita berpikir untuk memenuhi kebutuhan emosional anak HANYA dengan membelikan hal-hal yang bersifat materi, seperti mainan.

Lalu kapan kita tahu bahwa keinginan anak akan mainan saat itu merupakan tanda bahwa ada kebutuhan emosionalnya yang tidak terpenuhi atau hanya keinginan biasa saja? 
Ketika dia menjadi lebih sering “ngotot” mau mainan dan tidak peduli meskipun kita sudah amat positif menyampaikan bahwa ia tidak akan beli mainan saat itu. Atau ketika dia marah, sulit menerima saat kita bilang “Sekarang gak beli dulu ya nak”, “Nanti aja ya perginya” . Itulah tanda bahwa ada kebutuhan emosional lebih dalam yang belum terpenuhi.

Saat itu terjadi, waktunya mendekatkan diri lagi pada anak. Cari waktu bisa berduaan dimana kita bisa saling menikmati saja kehadiran satu sama lain. Tak perlu pusing mau main apa, main dimana? Simply being present. Pernah kan merasa jatuh cinta? Kita tidak peduli dimana dan kapan? Waktu seakan berhenti. Hanya menikmati ditemani satu sama lain. Begitulah mendekatkan diri lagi pada anak. Tanpa gangguan HP maupun TV. Tahan keinginan untuk  melirik HP di waktu spesial itu. Jadikan ini kebiasaan mingguan.

Saya tahu, setelah ini pasti akan ada pertanyaan atau komentar “aduh gak sempet anakku banyak”, “gak ada waktu, gak punya pembantu”. Sebelum berkomentar seperti itu, saya hanya ingin kita semua tahu bahwa sesibuk apa pun kita, kita akan selalu punya waktu untuk hal yang kita prioritaskan.

Ohiya ada 7 kebutuhan macam emosional anak yang disebut oleh Psikolog Markham. Bisa dicek di #7KebutuhanEmosionalAnak

Posted By

0 comments