Anak Dengan Prinsip Teguh (usia < 7 tahun)


Memiliki anak dengan prinsip teguh tidak selamanya buruk. Bahkan, di zaman sekarang kita amat butuh manusia dengan kualitas memiliki prinsip serta bisa komitmen menjalankan prinsipnya. .

Jadi, kalau punya anak dengan bibit-bibit prinsip teguh yang sudah terlihat sejak kecil, jangan sedih dan jangan buru-buru ingin menghilangkannya, apalagi memberi dia label si keras kepala. No no no...karena hal ini amat bisa menjadi kelebihannya, jika orangtua smart dalam mengarahkan potensi ini ke arah positif.

Ada sedikit trik nih mengarahkan sifat ini ke arah positif tanpa menghilangkan keteguhan prinsip anak (yg mana akan samgat dibutuhkan juga sikap ini di situasi lain). Kuy, kita lihat cara berdialog WIN WIN solution dengan anak kita yang berprinsip teguh, berkemauan kuat ini.

Ceritanya, keluarga cemara 😬 akan keluar makan malam bersama keluarga besar, dan anak memilih memakai pakaian bolong favoritnya (lalu mamak nangis di pojokan hihihi) 
Percakapan 1: (Cara yang kurang tepat)
Ayah yang masih memaksa anak untuk mengikuti aturannya 
Ayah ​: Arta, kitakan mau makan malam di restoran! kamu gak boleh pake baju itu, itukan robek! Bikin malu aja deh
Anak​: apa sih pa, robeknya cuma dikit kok!
Ayah ​: kamu kayak gak ada baju lain aja! Ganti sekarang atau gak usah ikut!
Anak ​: yaudah aku di rumah aja! .

Percakapan 2: (Cara yang tidak mematikan potensi baik keteguhan prinsip anak)

Ayah yang memodifikasi gaya komunikasinya sehingga anak lebih kooperatif

Ayah​:Sayang, kita mau pergi ke restoran lohh.. mama,papa,adik pakai baju rapih..
Anak​: ya biarin aja aku mau pake ini!
Ayah​: jadi kamu bisa pilih baju lain yang lebih rapih nak atau pakai jaket aja yaa biar robek di bajunya nggak keliatan
Anak​: Yaudah, mana jaketku? 

Dengan adanya alternatif solusi yang ditawarkan orangtua, meskipun tidak membuat kondisi menjadi sesuai harapan orangtua seratus persen, setidaknya ada solusi menang-menang yang didapat anak maupun orangtua. Yang lebih penting, meminimalisir konflik (yang sebenarnya tidak perlu terjadi) antara anak dan orangtua. Selamat berlatih yaa ayah dan bunda!

Posted By

0 comments