Hati-Hati Bilang "Kamu Tuh..."


Terkadang, kalau sedang dikuasai dengan kemarahan, rasanya ingin selalu menyalahkan hal-hal yang ada sekitar kita. Misalnya saat kita telat sampai kantor, yang terpikir “ya lagian sih jalanan macetbanget!” lalu merembet menjadi “Ahh.. kan tadi sih gara gara si papah sarapannya lama jadi mesti nungguin kan.. tadi si mbak juga bangun pake kesiangan, aku kan jadi harus ngurusin rumah dulu..telat deh telaaat” dan semua orang menjadi “tersangka”. Begitu juga saat menghadapi anak. Saat mereka berperilaku tidak menyenangkan, yang seringkali terucap: “Kamu kenapa sih nak hari ini marah marah teruss??”
“ nah liat kan gara gara adek jadi berantakan tumpah semua!”
“Kamu selalu yaaa bangun telaat terus”
“kamu nggak bisa ya nurut sm mama sekali aja??” dst… .
.
Dan ketika anak menerima kata kata ini, bukannya merasa bersalah dan berusaha mencari solusi, yang ada semakin defense dan “melawan” orangtua. 
Oleh karena itu, mari kita coba ubah bahasa komunikasinya, dari “Kamu” menjadi “Saya..”
.
.
Contoh:
“Kamu bikin mama capek!” menjadi “Mama butuh istirahat sebentar ya” .
.
“Kamu tuh nakal!” menjadi “Mama sedang marah, nak” “Kamu kok susah ya dibilangin? Ngejawab terus!” menjadi “Mama kesal sekali kalau lagi ngomong lalu dipotong. Mama jadi gak bisa mikir, nak” .
.
Ketika menggunakan gaya komunikasi “Saya”, anak jadi lebih memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh orangtua dan harapan dari orangtua kepada dirinya. Bagaimana ayah/bunda? Tertarik mencoba? Atau sudah dilakukan di rumah? Sharing ya pengalamannya di kolom comment

Posted By

0 comments