Teknik Agar Anak Tidak Kapok Curhat



Kisah anak yang lama-lama kapok curhat ke orangtua .

πŸ‘§πŸ»: “Aku gak suka sama bu guru! Dia teriakin aku di depan semua orang”
πŸ§”πŸ»:”Emang kamu ngapain sampe diteriakin sama bu guru?”
πŸ‘§πŸ»:”Aku tadi ngobrol tapi temenku lagi curhat penting”.
πŸ§”πŸ»:”Ya pantes aja nak”
ATAU
πŸ§”πŸ»: “Ee jangan bilang gitu” .

Kisah orangtua yang membuat anak makin percaya bahwa orangtua tempat curhat TERBAIQQπŸ‘πŸ‘! 

πŸ‘§πŸ»: “Aku gak suka sama bu guru! Dia teriakin aku di depan semua orang”
πŸ§”πŸ»:”WAAA.. Pasti malu sih kalau digituin.”(teknik acknowledge Feeling anak)
πŸ‘§πŸ»:”Iya aku sebel banget, pdhl aku cuman dengerin temen aku curhat”
πŸ§”πŸ»:”Mmm iya pasti sebel sih ya, lagi dengerin temen malah dimarahin.”
πŸ‘§πŸ»:”Iya.. dst..dst (biarkan ia cerita kita cukup hmmm....hmmmm..gituu..Sampai akhirnya dia selesai cerita)
πŸ§”πŸ»: “Jadi gimana donk ya biar kamu gk diteriakin guru lagi di kelas (biarkan solusi datang dari anak)

Rasanya pasti gemes pengen cepat-cepat nasehatin bahwa dia memang salah. Tapi kesampingkan perasaan itu sebentar. This isn’t about you, right now, dan kecemasan kita tidak akan membantu di situasi seperti ini. Yang penting saat ini adalah membantu anak melewati perasaan negatif dan membantu anak muncul ide solusi sendiri. Masih banyak waktu lain untuk menasehati tentang santun terhadap guru. Tapi saat seperti ini, ia sedang butuh seseorang untuk mendengarkannya.

Meng-acknowledge perasaan anak bukan berarti kita setuju dengan hal itu. Kita hanya menunjukkan bahwa kita mengerti apa yang sedang ia rasakan. Itu saja. Ketika anak sudah merasa perasaannya dimengerti, maka perasaan negatif itu menjadi hipang dan membuat lega. Tidak menumpuk dipendam di dalam hatinya dan menjadi dendam yang sewaktu-waktu bisa keluar dalam bentuk “ledakan” emosi berlebihan karena sudah terlalu banyak yang dipendam dan jarang di-acknowledge. 

(Sumber: Buku Peaceful Parent Happy Kids by Dr.Laura Markham)

Posted By

0 comments