Anak Merasa Dimengerti Dengan Kalimat Ini


Banyak orangtua mengira bahwa merefleksi perasaan anak berarti kita setuju dengan perasaan anak itu. Padahal tidak begitu. Merefleksi perasaan anak adalah skill penting yang wajib dimiliki orangtua dan masih jarang di beritahukan pada pelatihan-pelatihan parenting di Indonesia. .

Merefleksi perasaan anak menunjukkan bahwa sebenarnya kita memahami perasaan anak meskipun kadang kita tidak setuju dengan perilakunya. Dan kalau dalam hidup ini kita pernah merasa dipahami perasaannya, pasti kita tahu betapa tersentuhnya kita jika merasa ada orang yg paham dengan perasaan ini. .

Begitu pula dengan anak. Saat anak merasa perasaannya dimengerti, perasaan negatif itu jadi “ter-lega-kan” atau jadi lega. Iya kan?
Kita sebagai orangtua tidak perlu suka atau merasa perlu memberi solusi awalnya untuk perasaan anak tersebut. Kita hanya perlu mengakui keberadaan dari perasaan itu.

Perasaan yang diabaikan atau terlarang untuk diungkapkan tentunya tidak akan hilang. Suatu waktu nanti ia akan muncul lagi, dalam bentuk yang bisa jadi lebih negatif seperti tiba-tiba anak tantrum di mall padahal masaah sepele yang sering terjadi.

Jadi penting untuk belajar cara merefleksi atau mengakui perasaan anak untuk digunakan dalam interaksi sehari-hari: .
.
-“Pasti malu banget ya rasanya digituin kak!(atau kesel/ gak enak/serem/sebal)

.-“Wah mama juga sakit si hati mama kalau digituin ya"

-  "Ngerti siy papa kalau kamu jadi marah gitu"

-"Perasaannya gak enak kayanya hari ini adek."

-"Maaf nak mama gak ada disitu buat tolongin kamu..”


Teknik ini bisa dipakai: ketika anak sedang tantrum, marah, sebal, kesal, sedih, menangis, curhat,terlalu senang, terlalu excited. .

Teknik untuk usia: 1 tahun hingga anak sudah dewasa nanti.

Salam hangat,
Psikolog Anak Devi Sani

Posted By

0 comments