Memupuk Rasa Pantang Menyerah Sejak Bayi


Seorang bayi baru belajar tengkurap. Ia terlihat amat brusaha untuk berguling ke posisi semula. Sang ibu ada di dekatnya, menahan keinginan untuk cepat-cepat membantu. Ibu duduk di dekat bayi, mengucapkan “Iya ade dorong tangannya. Kuat banget usahanya. Terus dek terus”, dengan nada suara tenang. Mungkin bayi belum mengerti apa yang dikatakan sang ibu. Tapi ada 3 hal yang bayi pelajari dari kejadian ini:

1. Karena nada suara ibunya tidak panik, bayi belajar bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan bahwa mamanya percaya akan kemampuannya menyelesaikan pekerjaan ini.
2. Karena ibunya tidak cepat-cepat menolong, bayi belajar bahwa ini adalah hasil usahanya sendiri
3. Karena ibunya menghargai usahanya, bayi belajar bahwa ia manusia yang berharga.
4. Karena ibunya merespon perubahan wajah bayi yang berusaha keras, bayi yakin bahwa ibunya akan segera menolong jika ia butuhkan.

Kebiasaan ibu ini ini tidak buru-buru menolong terus berulang setiap hari di setiap interaksi yang ia rasa-rasa tidak darurat bahaya untuk bayinya. Sang bayi belajar berguling lagi kemudian menangis. Ibu mulai menenangkan dengan suara tenangnya “Tangannya ngalangin ya nak, sakit rasanya”. Ketenangan sang ibu seakan mengkomunikasikan pada bayi bahwa tidak ada yang darurat dan bahwa ini adalah proses belajar. Kemudian sang bayi karena tidak panik, jadi mencoba lagi dan akhirnya sukses!

Tapi ada hari ketika sang bayi pernah terlihat sedang tidak ingin mencoba dan mudah kesal. Di sinilah sang ibu menolongnya sambil mengatakan “Udah kecapekan ya hari ini belajar tengkurepnya? Sini sama mama. Kita coba lagi besok”, tetap dengan nada suara yang tenang.

Interaksi seperti inilah yang bisa memupuk rasa pantang menyerah sejak bayi. Bayi ini beruntung memiliki ibu yang mengobservasi dan menemani bayi mengatasi tantangan kecil. Sang ibu amat tahu bahwa ia akan menolong jika ia melihat sang bayi memang butuh, bukan hanya karena kecemasan ibu.

Bayi butuh merasakan mencoba sendiri. Sebagai ibu, kita perlu “menenangkan” kecemasan,menunggu lalu memberi bayi kesempatan tanpa perlu secepat kilat menolongnya (pada keadaan yang bukan darurat bahaya).
(Ide tulisan: Buku peaceful parenting oleh Dr.Markham)

Posted By

0 comments