Jangan Panggil Anak Nakal



Jika suami kita bilang bahwa kita paling cantik. Kita akan senang sekali meskipun dalam hati “gombal” deh dan gak percaya. Mungkin menganggap pasti lagi ada maunya. Ternyata suami kita mengatakan tidak hanya satu kali itu, tetapi rutin. Hampir setiap hari. Kita mulai percaya dan bertanya “apakah benar ada yang berbeda, apa saya tambah langsing/putih ya? Padahal saya tidak ngapa2in”.
Kita mulai percaya pada perkataan suami kita. Kita pun merasa cantik saat keluar rumah, merasa cantik saat reuni, merasa cantik saat anter-jemput anak sekolah. Merasa cantik bahkan seumur hidup. Kita akan semakin merawat kecantikan kita. Hanya karena perkataan satu orang yang kita anggap “orang penting” dalam hidup kita yang ia katakan setiap hari.

Begitu juga dengan anak. Jika setiap dia melakukan perilaku negatif, kita selalu ucapkan kata nakal, atau bahkan berpesan dengan kata-kata jangan nakal, selalu ada selipan kata nakal dan nakal yang ia dengar tiap hari, maka ia akan benar-benar menjadi nakal. Anak akan percaya pada label yang diberikan “orang penting” baginya. Dengan seringnya ia dikatakan nakal, maka dia akan menjadi lebih “semangat” lagi untuk memenuhi ciri-ciri anak nakal.

Kedua, Anak yang masih kecil belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis. Apa yang mereka anggap benar masih amat bergantung pada apa yang dikatakan “orang penting“ dewasa di sekitar mereka bukan pada fakta sesungguhnya.

Jadi jika kita bilang dengan sangat meyakinkan pada anak TK bahwa kuda bisa terbang. Anak TK ini akan percaya bahwa kuda bisa terbang tanpa berpikir lagi tentang bentuk kuda dan menyadari bahwa sayap itu untuk terbang dan menyadari bahwa kuda tidak punya sayap kemudia mereka menyimpulkan bahwa orangtua mereka salah karena mengatakn bahwa kuda punya sayap. Anak kecil belum memiliki kemamphan berpikir kritis seperti ini. .

Sehingga jika kita bilang dia nakal satu-dua kali saja, anak kecil akan sangat percaya bahwa dia memang anak nakal selamanya. Meskipun maksud orangtua hanya mengatakan bahwa ia nakal pada saat itu saja dan pada perilaku itu saja. Kemudia apa yang terjadi? Semakin bertambah nakal-lah ia.

Salam,
Psikolog Anak Devi Sani

Posted By

0 comments