Contoh Disiplin Tanpa Menghukum


Kisah Sang Ayah yang Baru Belajar Sabar
👦🏻: “Beli mainan”
🧔🏻: “Kan udah perjanjian gak beli mainan tadi sebelum pergi”
👦🏻: “Beli!!!!”
🧔🏻: “Enggak nak, maaf ya. Tadi janjinya gak beli mainan”
👦🏻: “Huaaa..huaaa”
🧔🏻: "Ade nangis ya papa gak bolehin beliin mainan itu, tapi tetep gk boleh ya nak karena sudah janji hari ini gak beli mainan”. ( “Jurus” ke-1: #TeknikEmpati pada perasaan anak dulu. Manfaat: anak yang sudah merasa dimengerti akan lebih berkurang minta ini-itu-nya dan lebih terbuka pd arahan). Katakan ini sambil jongkok. Mata anak sejajar mata kita. 👦🏻: (masih menangis meraung-raung)
🧔🏻: (mulai panik seisi mall melihat. Tarik napas dalam). “Iya nak, kesel ya papa gak beliin. kesel ade”.(nada bicara biasa saja sambil empati)
🧔🏻: (Masuk jurus 2, alternatif pengganti yang sesuai dgn aturan awal) “Kalau mainan gak boleh nak, tapi beli makanan papa kasih” .
🧔🏻: (Biarkan anak menangis, jika tidak memukul bisa dipeluk saja dulu. Jika meraung sambil memukul baiknya dibawa ke mobil dulu, sambil tahan tangannya agar tidak memukul)
🧔🏻: (masih menunggu anak reda nangisnya tetap duduk saja sambil “nikmati” tangisannya) “Iya nak, kesel iya”. (Sesekali katakan itu, sesekali saja).
🧔🏻: (masih menemani ia dalam tantrumnya...)
👦🏻: (1 jam kemudian tangisan reda)
🧔🏻: Iya nak kesel ya papa gk kasih mainan. Sekarang, kita istirahat di rumah atau ke dalam mall lagi beli makanan kesukaan ade?( Kalau dia gak jawab mungkin istirahat pilihan yang lebih baik).


Kisah Sang Ayah Penyuka Disiplin Instan
👦🏻: “Beli mainan”
🧔🏻: “Kan udah perjanjian gak beli mainan tadi sebelum pergi”
👦🏻: “Beli!!!!”
🧔🏻: “Enggak nak, papa kan udah bilang gak beli mainan tadi. Kok udah janji. Gak ditepatin” (mulai menjelekkan anak)
👦🏻: “Huaaa..huaaa”
🧔🏻: “Diem, dimainan itu ada tikusnya tauuu”. (Membohongi anak)
👦🏻: (Makin nangis)
🧔🏻: “Eh kok gitu sih. Yauda papa tinggal ya disini (Ancaman yg mungkin mempan kali ini tapi lain kali, anak tetap akan berperilaku sama). .

Anak mudah untuk move on ke hal lain karena tahu orangtuanya sudah mengerti perasaannya. Itulah sebenarnya kebutuhan terdalam anak: orangtua memahami perasaanya, bukan mainannya.

Posted By

0 comments