Anakku Sulit Diam Di Kelas



  • Perlu dipahami tiap anak dilahirkan dengan tubuh yang berbeda-beda. Ada anak yang terlahir dengan kebutuhan gerak yang sangat besar. Artinya, anak kebanyakan lari keliling lapangan 1x sudah cukup kecapean dan puas menyalurkan kebutuhan geraknya. Nah berbeda dengan anak yang kebutuhan geraknya besar, ia mungkin perlu keliling lapangan 5 bahkan 10 kali, barulah ia capek dan bisa lebih tenang. Tidak seperti “cacing kepanasan” lagi. Itulah gambaran anak yang memiliki kebutuhan gerak lebih besar dari pada anak biasanya.

    Kemudian apa yang menyebabkan ada anak yang kebutuhan geraknya normal ada juga yang luar biasa sampai membuat orangtua pusing? Salah satu penyebabnya adalah yang disebut dengan sensor proprioseptif yang terletak di persendian dan otot anak-anak kita. Sensori proprioseptif ini bertanggung jawab atas gerakan-gerakan yang kita buat. Jika sensori proprioseptif nya baik dan sehat maka anak mudah memperkirakan gerakannya. Mana yang terlalu kenceng, mana yang terlalu lembut. Kalau megang bayi lembut, kalau megang temennya sedang aja, kalau pegang play dogh baru boleh diremes. Jika tidak seimbang si sensor proprioseptif ini maka muncullah masalah-masalah seperti pegang pensil sering patah (padahal gak bermaksud begitu), niatnya colek temen malah mukul, niatnya pegang lego temen malah ancurin, termasuk kebutuhan geraknya jadi besar lebih dari anak pada umumnya akhirnya dia sulit diam di dalam kelas akhirnya apa yang diajarkan guru/orangtua jadi tidak terserap.

    Jadi buibu yang merasakan hal ini jangan merasa bahwa ini salah bunda-ayah tidak mendidik anak dengan benar karena sebenarnya ini terkait dengan keadaan sensori yang memang sudah dibawa dari kandungan. Bukan salah orangtua tidak mendidik ya. Namun akan jadi makin parah kalau orangtuanya tidak mau belajar ttg sensori dan malah ikut mencap anak nakal. Kasihan sekali. STOP cap sbg ANAK NAKAL

  • Beruntung orangtua yang memiliki anak dengan sensori proprioseptif yang sehat saja. Anaknya pasti lebih mudah diajarin, lebih mudah fokus. Jadi jangan merasa bahwa semata-mata hanya berkat teknik jitu orangtuanya ya. Karena kondisi sensoris anak pun memegang peranan besar atas cepat-lambatnya anak belajar.
Salam,
Devi Sani, M.Psi., Psikolog

Posted By

0 comments