Agar Anak Kooperatif


Ada yang mengatakan bahwa cara parenting yang menjadi visi misi kami ,yaitu connection before correction itu seperti terlalu memanjakan anak. Hal ini tidak benar. Kami amat tidak mendukung jika ada orangtua yang selalu menuruti keinginan anaknya. Jika tipe orangtua yang “kalah” dengan anak ini datang ke klinik kami, maka akan kami jadwalkan mengikuti Parent-Child Interaction Therapy, dimana orangtua dilatih untuk tegas dengan anak namun anak tetap merasa disayang dengan hubungan emosional yang dalam.

Nah sekarang mengapa sih klinik kami selalu mengutamakan koneksi, koneksi dan koneksi orangtua-anaklah yang paling penting?. Sekarang coba bayangkan berada di posisi anak. Anak adalah “penghuni” baru di dunia ini. Mereka butuh bimbingan orangtua. Jika tidak mendapat bimbingan ini, mereka akan merasa tidak aman. Lalu muncullah perilaku berulah sebagai cara mereka mengatakan “aku merasa tidak aman, aku butuh batasan”. Betul, anak sebetulnya butuh batasan agar merasa aman. Namun batasan ini bukan dengan hukuman disampaikannya. Kita bisa memberi batasan pada anak dengan cara yang bisa terima, yaitu:


1. Modeling, “Bilang pinjam mainannya kaya gini ya,boleh aku pinjam”

2. Menawarkan strategi, “Mungkin kalau ade mintanya sambil senyum seperti ini akan dikasih”

3. Membantu dgn penenangan emosi, “ Kita tunggu giliran ayunan ya. Mama temenin di sini sama-sama”

4. Mengingatkan, “kalau mau meludah dimana? Di kamar mandi ya”

Di atas ada empat strategi. Empat strategi ini kalau kita terbiasa pakai dengan anak bisa juga menumbuhkan rasa bahwa dia mampu melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orangtuanya. Memang sih perlu kesabaran lebih. Tapi hasilnya akan lebih bertahan jangka panjang.

_____
Psikolog Anak Devi Sani

Posted By

0 comments