4 Alasan Balita Tetap Melakukan Hal yang Dilarang


Empat Alasan balita tetap melakukan yg dilarang orangtua:

1. Otaknya masih berkembang. Ia masih belajar cara menenangkan diri sendiri. Perlu diingat otak yang mengatur kemampuan berpikir rasional belum berkembangan sempurna di usia ini.

Pada usia balita, otak balita yg bertugas untuk meregulasi emosi mereka ketika mereka kesal sebenarnya masih berproses untuk terbentuk sempurna. Makanya ketika mereka lagi marah, mereka bisa langsung saja “panas” bahkan “main silat” atau agak kurang cepat reda marahnya. Mengapa? Karena otaknya juga berperan di sini. Kemudian bagian otak yang mengurusi rasional atau berpikir “bagaimana sebaiknya aku marah yang baik” juga masih berlatih untuk berkembang sempurna sebelum nanti mencapai 6-9 tahun.

Oleh karena itu, kalau sudah dewasa tapi marah-marahnya masih seperti balita, berarti bagian otak yang mengurusi regulasi emosi secara rasional belum berkembang juga. Hehehe... bercanda..Mungkin juga stress yang menumpuk ya..

2. Balita punya rasa ingin tahu yang tinggi. “Gimana ya kalau crayon ditulis di dinding? Gimana ya kalau botol kecap dibuka?”. Mereka sama sekali tidak nakal tapi ingin tahu how things work. Dan mereka juga belum paham kalau ternyata, misalnya, mencoret-coret paspor adalah hal yg “emergency”.

3. Balita sedang sibuk dan tidak paham mengapa yang kita suruh harus dilakukan saat itu juga. Balita tidak akan paham kenapa mandiri detik itu juga lebih penting dari memasang mainan legonya. Triknya jadikan semuanya bermain: “nak, ayo mandi sambil naik sapu tukang sihir, mama jadi sapunya”.

4. Dia merasa disconnected dgn orangtuanya. Bisa terjadi karena frustrasi, takut, dan emosi negatif lainnya yang belum bisa ia ungkapkan pada kita. Oleh karena itu, penting untuk bermain bersama untuk “memventilasi” semua emosi negatif keluar melalu rasa connected dgn anak.

Posted By

0 comments