Penerapan Disiplin: Brick Wall vs Rubber Band


Pernah tidak Ayah-bunda menyuruh anak harus mandi sore di satu waktu, tapi di hari lain gapapa gak mandi sore? Atau pernah tidak di satu waktu saat anak tidak menghabiskan makanannya, konsekuensi anak tidak boleh menonton TV sepanjang hari. Namun di hari lain, saat anak tidak menghabiskan makanan, anak tetap boleh menonton TV? .

Di dalam bukunya, Parent Child Interaction Therapy, McNeil & Hembree-Kigin menganalogikan disiplin yang dilakukan orang tua sebagai brick wall vs rubber band. Jika anak merasa aturan dan konsekuensi dari aturan yang diberikan orang tua bisa berubah-ubah. Kali ini tidak boleh, besok boleh. Atau orang tua mengancam anak untuk tidak melakukan sesuatu, namun ujung-ujungnya ancaman tidak dilakukan. Maka anak bisa mempersepsi orang tua seperti 'rubber band'. Anak akan terus-menerus mengulur si rubber band, mengetes seberapa jauh rubber band memanjang sampai akhirnya putus. Anak akan terus-menerus melanggar aturan orang tua, mengetes kesabaran ortu, sampai ortu marah besar. .

McNeil & Hembree-Kigin menyarankan ortu untuk menjadi brick wall. Aturan diterapkan sedikit saja (namun benar-benar penting & dibutuhkan oleh anak) dan orang tua konsisten dengan aturan yang diberikan maupun konsekuensi dari aturan yang diberikan. Menjadi benar-benar seperti brick wall, yang membuat anak tahu bahwa dengan cara apapun brick wall tidak dapat dipatahkan. Ia akan berdiri kokoh sebagaimana adanya.
Hal ini sesuai dengan berbagai penelitian yang ada, yang memperlihatkan bahwa konsistensi menjadi salah satu kunci sukses dari penerapan disiplin. Yuk menjadi brick wall untuk si kecil, Ayah Ibu

Salam,
Devi Raissa, M.Psi., Psikolog

Posted By

0 comments