Apa itu Insecure Attachment?


Kalau kita punya orang yang dapat kita percaya, tentu menyenangkan, bukan? 
Nah untuk seorang anak, sosok yang dapat ia percaya sebaiknya adalah orang tuanya. Bagaimana cara agar orang tua menjadi sosok yang dapat dipercaya anak? Dengan menyediakan kebutuhan anak, baik secara fisik maupun non-fisik. 

Jadi orang tua yang gagal menyediakan kebutuhan anak. Misalnya saat menangis, alih-alih anak digendong untuk ditenangkan, ia justru dibentak. Anak akan membangun kelekatan yang tidak aman dengan orang tuanya. Dikenal juga dengan nama insecure attachment. Anak tidak percaya bahwa orang tua bisa menjadi sosok yang dapat ia andalkan. Ketika anak dewasa, anak pun juga kemungkinan besar tidak dapat mempercayai orang-orang disekitarnya.

Salah satu contoh insecure attachment adalah : avoidant. Anak terlihat cuek dengan lingkungan. Misalnya saat orang tuanya pergi, ia tidak menangis atau protes. Pun saat orang tuanya datang kembali, ia masih cuek dan tidak terlihat menampakkan ekspresi kegembiraan atau kesedihan atau ekspresi lainnya. Padahal (seperti dikutip dari Peaceful Parent, Happy Kids - Dr. Laura Markham), ketika diukur fisiologisnya, anak-anak ini mengalami kenaikan detak jantung dan level kortisol saat orang tuanya sedang pergi meninggalkan ruangan. Jadi walaupun terlihat cuek, namun sebenarnya mereka kecewa dengan kepergiaan orang tuanya, dan menyembunyikan hal tersebut agar tidak terlihat orang lain. Saat mereka dewasa pun, mereka sebenarnya kesepian dan memiliki kebutuhan emosional, namun menekannya dan tidak menunjukkannya. Sehingga walaupun mereka mungkin saja sukses secara akademis, namun mereka kurang memiliki kemampuan sosial yang dapat membatasi kebahagian, dan bahkan kesuksesan karir mereka. Sedih ya, Ayah Ibu 
Sehingga Ayah Ibu berperan penting nih agar anak terhindar dari insecure attachment. Dimulai dari menyediakan kebutuhan anak, sejak bayi 😊😊

Merasa butuh untuk mengecek hubungan dengan anak? Bisa hub nomer di bio untuk melakukan #CekUpIkatanEmosionaldengan Psikolog Anak kami.

Salam,
Devi Raissa,M.Psi., Psikolog

Posted By

0 comments