Orangtua Adalah Kunci Ketenangan Anak

Hari ini, Hashfi, adik saya menangis. Menangis yang bukan sesenggukan atau meraung-raung. Lebih kepada menangis tanpa suara. Menangis sedih. Ternyata itu karena kecemasannya membayangkan 'bisa tidak ya mengerjakan ujian negara nanti?'. Saya cukup kaget karena ia biasanya cukup santai menghadapi ujian. Ia juga terbilang cukup menguasai materi yang diujikan. Selama ini nilai-nilainya pun baik. Jadi apa yang ia cemaskan? 

Ternyata setelah diingat-ingat kembali, (mungkin ini terjadi juga secara tidak sadar), orang tua saya beberapa minggu terakhir ini menekankan pada pentingnya ujian negara. Menyuruh Hashfi untuk belajar dan belajar. Dan mengingatkan bahwa walaupun benar semua jawabannya, namun jika tidak menggoreskan pensil dengan benar, maka tidak akan 'terbaca' oleh sistemnya dan nilainya bisa 0. Dst. Tentu maksudnya baik. Namun karena berkali-kali dikatakan, hal tersebut yang tadinya tidak terpikirkan, akhirnya sedikit demi sedikit juga jadi menimbulkan kecemasan dalam diri Hashfi. Yang bisa jadi kalau kecemasan ini bertambah besar, akan membuat Hashfi malah kesulitan saat mengerjakan soal.

Dari situ saya menyadari satu hal. Terkadang, biasanya tanpa disadari, orang tua dapat 'menularkan' kecemasan ke anak. Niatnya agar anak berhati-hati dan selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan, namun jika diucapkan dengan intonasi cemas atau marah, atau diucapkan berkali-kali. Justru dapat membuat hasil yang diharapkan tidak tercapai. Anak justru ikut panik, cemas, atau takut. Jadi yuk Ayah Ibu, perhatikan nada suara, waktu, dan cara penyampaian nasihat dan informasi ke anak, agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan 😊


Salam,
Devi Raissa, M.Psi., Psikolog

Posted By

0 comments