Bermain Dan Kemampuan Anak Untuk Berbagi

Bermain dan Berbagi
Kita semua tahu tentang besarnya manfaat bermain. Penelitian demi penelitian pun selalu menghasilkan demikian. Namun mengapa ada saja pihak yang “merenggut” hak bermain mereka dengan cepat-cepat mengajarkan menulis, merasa bahwa les calistung lebih baik semuda mungkin, anak usia 3 tahun diminta duduk dan mengerjakan banyak worksheet. Banyak pihak merasakan bahwa anaknya akan lebih banyak mendapat banyak manfaat jika sejak dini sekali sudah diberi les dimana anak harus duduk mengerjakan sesuatu daripada membawa anaknya ke tempat playground outdoor dimana mereka bisa berlari, berteriak, pura-pura jadi bajak laut, belajar mengabil resiko, ditolak dalam pertemanan di playgorund.
.
.
Hal ini tentu membuat saya sedih. Jika kita lihat banyak sekali artikel penelitian yang kemudian dimuat di majalah yang mengutamakan pentingnya bermain seperti pada berita utama CNN.com berjudul, “Want to Get Your Kids into College? Let Them Play.” Pada berita lain, juga bertajuk “Old-Fashioned Play Builds Serious Skills.”. Bahkan neuroscientist Adele Diamond menemukan bahwa anak yang bermain selama prasekolah mengembangakn kemampuan berpikir akamdemis yang lebih baik. Dr. Stuart Brown, pemimpin di the National Institute for Play di US juga menunjukkan anak yang waktu mainnya sangat sedikit menjadi anak yang sulit berteman sehingga kurang kemampuan sosialnya termasuk kemampuannya dalam memilah mana saat ia perlu berbagi, dan mana saat ia perlu mempertahankn apa yang ia miliki.
.
.
Itulah mengapa kami mendirikan klinik psikologi berbasis bermain, Rainbow Castle. Kami ingin tidak hanya kami yang paham arti pentingnya bermain, melainkan orangtua juga bisa melihat sendiri bagaimana bermain bisa membuat kehidupan anak mereka menjadi lebih bahagia dan lebih baik tanpa perlu memaksa anak untuk berubah
.
.
salam hangat,
Psikolog anak dan remaja Devi Sani M.psi,Psi.


Posted By

0 comments