Apakah Anak Harus Berbagi Mainan?

Ketika mengangkat tema berbagi, sebagian besar ayahbunda akan melontarkan pertanyaan berjamaah "Bagaimana caranya agar anak mau berbagi mainan dgn saudara/teman?" Sebelum lompat jauhh menuntut anak untuk berbagi, kita perlu pahami dulu sudut pandang anak,berempati dgn apa yang ia rasakan. Kita coba bayangkan posisi kita sebagai si kecil.. Mainan favorit anak,jika diibaratkan sudah seperti "belahan jiwa" anak, bagian terpenting dr anggota tubuhnya. Sehingga ketika kita meminta dia untuk berbagi mainan sama saja meminta anak untuk "membelah dirinya"
.
.
Mainan adalah "benda sakral" yg jadi bagian jati diri anak. Mengapa? Karena melalui mainanlah anak dapat mengeksplorasi dunia di sekitarnya serta menjalin relasi dgn orang lain. Selain itu,saat anak merasa memiliki kontrol terhadap mainannya, ia akan merasa sejahtera dan bahagia

Dengan memahami sudut pandang ini, kita bisa lebih sabar dlm menghadapi prilaku si kecil yang "ajaib" ketika kita menuntut anak untuk berbagi mainan. Bahwa tidak mudah bagi anak untuk mengikhlaskan kesejahteraannya "diambil", belahan jiwanya direnggut.. Lalu bagaimana solusinya? Biarkan anak "melepaskan"nya secara sukarela. Ia yg menentukan kapan ia merasa sudah siap untuk mengikhlaskan mainannya dan mulai berbagi. Tentu ada trik tersendiri untuk membantu ayahbunda agar punya amunisi sabaaar berlipat ganda dan membiasakan si kecil bergantian bermain (alternatif ide dari berbagi)

Oleh karena itu,simak terus feed instagram kami ya untk mengetahui tips triknya lebih lanjut 😉

Salam,
@belindagustya, Psikolog anak

Sumber: Dr.Laura Markham dalam bukunya" Peaceful Parent,Happy Sibling"

#anakberbagimainanrc


Posted By

0 comments