Social Skill Dan Mogok Sekolah

Hari Sabtu tanggal 26 Mei 2018 yg lalu saya mendampingi partner saya, Psikolog anak Devi Sani melangsungkan #parentingwebinarclubdengan judul "Tolong, Anakku Mogok Sekolah!" Saat mendengarkan materi tsb saya baru sadar, ternyata saya pernah mogok sekolah!

  • .
    .
    Jadi waktu itu saya kelas 6 SD, saya punya genk (tuh zaman dulu aja anak SD udah punya genk! 😂) isinya 4 orang. Dr kelas 4 sampai kelas 6 awal kami selalu bersama,salahnya,kami mengeksklusifkan diri jadi nggak byk gabung dgn teman yg lain. Malah mereka yg mau gabung dgn kami. Sampai akhirnya di pertengahan kelas 6, genk kami bubar krn berkonflik. Akhirnya pecah jadi 2 kubu. Dan setelah berjalan beberapa lama, saya dan satu teman lg yg tadinya satu kubu entah kenapa bertengkar dlm tempo waktu cukup lama (saya sampai lupa sebenarnya dulu ada apa, duh kebanyakan nonton sinetron mungkin ya, jangan ditiru ya ayahbundaa 😂). Singkat cerita, sayapun sendirian. Karena terlanjur mengeksklusifkan diri sekian tahun, saya jadi ga deket sama teman yg lain. Merasa tersisih dan sendirian.

    Sedihnya lagi, saya tidak tahu BAGAIMANA CARANYA MENYELESAIKAN KONFLIK. Kemampuan social skill saya waktu itu tidak terasah optimal. Nah mulai deh muncul gejala mogok sekolah. Setiap pagi mau sekolah, badan saya pasti panas. Mual dan muntah. Tapi anehnya, saat diperbolehkan tidak sekolah,di siang harinya, saya merasa sehat. Badanpun sudah segar kembali. Kondisi ini berlangsung selama 1 bulan. Saved by the bell, akhirnya saya mau masuk karena ke sekolah hanya untuk persiapan ujian. Jadi saya nggak perlu banyak interaksi dengan teman. Toh sdh persiapan EBTANAS kala itu.

    Dari pengalaman itu, saya melihat pentingnya melatih kemampuan social skill pada anak untuk mencegah terjadinya anak mogok sekolah. Pada kasus saya sederhana banget loh ayahbunda, hanya karena saya nggak tahu caranya menyelesaikan konflik dengan teman saya atau mencoba pertemanan baru. Kondisi tsb juga diperburuk karena orangtua saya juga tidak mencari tahu apa yg sedang saya hadapi. Tidak acknowledge perasaan saya ( seperti yg disampaikan bu devi sani di webinarnya, salah satu cara mengatasi mogok sekolah). 
  • Padahal kalau orangtua saya mau sedikit berusaha, keterampilan social skill ini bisa diajarkan kepada saya melalui teknik BERMAIN peran. Misalnya Bunda mengajak anak bermain peran, bunda sbg si anak dan anak sebagai temannya. Kemudian bunda memperagakan caranya menyampaikan ketidak nyamanan terhadap temannya, bahwa bunda (yg saat itu berperan sebagai anak) ingin kembali menjalin persahabatan. Nah saat bermain peran itu, anak melihat cara orangtua menyelesaikan konflik.. Anak bisa mengadopsi maupun memodifikasi teknik tsb. Selanjutnya bergantian. Bunda menjadi teman dan anak menjadi dirinya sendiri. Lalu bunda bersama anak bisa saling evaluasi cara penyelesaian konflik yg paling tepat adalah yang seperti apa..

  • Selamat mencoba yaa ayahbunda ❤Salam, 
  • Psikolog anak @belindagustya



Posted By

0 comments