Kesiapan Anak Berinteraksi Disekolah Dimulai Dari Terpenuhinya Kebutuhan Emosional Sejak Bayi


Kita seringkali mengalami sulit sekali berpikir ketika merasa kelaparan. Saat lapar rasanya sulit melakukan kerjaan yang ada di meja kita. Kemudian setelah kebutuhan makan kita terpenuhi, kita jadi merasa siap menghadapi kerjaan atau tantangan di pagi itu, meskipun sulit. .
.
Hal ini sama dengan anak. Ketika saat bayi kebutuhannya untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang dan pengakuan sudah dipenuhi. Maka bayi tinggal fokus pada tantangan selanjutnya, yaitu menjalin pertemanan dengan orang lain di luar ayah dan ibunya. Ketika ia mulai masuk sekolah, maka pertemanan atau interaksi ini adalah dengan teman dan gurunya. Ini merupakan tantangan baru bagi anak yang tentunya lebih sulit.
.
.
Ia tinggal fokus saja untuk melihat dan mencontoh cara berinteraksi yang baik. Salah-salah sedikit tidak apa, tapi ia tetap mengamati dan belajar cara berinteraksi dan berteman. Nah untuk anak-anak yang masil kesulitan menjalin pertemanan, pertama bisa jadi karena memang ia memiliki masalah sensori. Kedua, ia belum bisa fokus pada tantangan untuk berinteraksi karena salah satu kebutuhan dasarnya belum terpenuhi waktu ia bayi, yaitu kebutuhan emosional (kasih sayang, kedekatan, perhatian dan pengakuan). Fondasi dasarnya belum terpenuhi, ia sudah diminta mengatasi kesulitan di level game selanjutnya. Tentu sulit.
.
.
Satu cara utama untuk memenuhi kebutuhan emosional sejak bayi adalah BERMAIN. .
.
Psikolog Anak @devisani

Posted By

0 comments