Kemampuan Anak Untuk Berteman Diawali Dari Kemampuan Berinteraksi Dengan Keluarganya

Di tempat main anak biasanya kita suka menemui ada anak yang jadi “boss”, ada yang rebutan, ada yang malu-malu, tidak ikut main tapi melihat, mau gantian, mau kompromi dan berbagai situasi yang sering diistilahkan sebagai playground politics. Selayaknya politik, hal ini memang agak ribet dan terasa penting- tapi kadang gak penting juga untuk orangtua ikut campur terlalu dalam. 
.
.
Pada intinya anak-anak ini berinteraksi dan namanya juga anak-anak2, mereka masih belajar untuk berinteraksi. Dari mana mereka belajar berinteraksi?
.
Awalnya melihat bagaimana keluarga kecilnya berinteraksi, terutama ayah dan ibunya saling berinteraksi. 
.
Jika anak melihat bahwa ayah-ibunya membicarakan perbedaan pendapat dengan nada biasa bahkan terkadang sepakat untuk berbeda pendapat tapi tetap saling sayang, nah di sini anak jdi melihat bahwa tidak apa untuk mempertahankan pendapat tanpa perlu teriakan atau marahan. Kemudian menghargai perbedaan itu.
.
.
Jika anak seringkali melihat ayah dan ibunya berantem saat ada perbedaan pendapat, maka anak akan belajar bahwa berbeda pendapat itu hal yang jelek, atau lebih baik tidak usah berpendapat dan diam jika malah membuat suasana jadi tidak enak.
.
Atau ketika ada yang tidak disukai dari pasangan apakah kita diam saja ngambek atau lebih terbuka dengan bilang “Aku gak suka kamu.....”.
.
Anak akan menerapkan ini semua secara mandiri di interaksi mereka saat bermain dengan teman sehari-hari. Termasuk ketika ada anak yang jahatin dia. Apakah anak bisa bilang “Aku gak suka kamu....”, atau kah anak akan diam saja “tak berdaya”. Kemampuan anak untuk mandiri diawali dari rasa percaya dirinya.
.
.
Psikolog Anak&Remaja @devisani


Posted By

0 comments