Hati-Hati Jika Terlalu Banyak Mengatakan "NO"

Jika menemukan diri ini terlau sering menggunakan kata “NO” atau “Jangan” pada anak, maka ada kalimat lain yang lebih positif, yaitu:
“Mama gak mau adek.....”
“Mama gak suka abang....”.
.
.
Mengapa kalimat di atas lebih baik? Alasannya ada dua. Pertama, kalimat bentuk seperti ini dlm buku-buku parenting disebut dengan teknik I-message atau pesan-Saya. Kenapa? Karena kata depannya selalu diawai dengan apa yang dirasakan oleh pembicara kalimat ini, seperti “Saya merasa...”, “Aku gak suka...”, “Mama gak suka kalau....”. Awal kalimat seperti ini baik karena lebih menyatakan perasaan kita dan tidak memojokkan orang yang kita ajak bicara. Coba bedakan dua kalimat di bawah ini, mana yang rasanya lebih menyalahkan:
A. Kamu salah beli susunya
B. Mama lebih suka kalo papa beliin susu yang merek ini
.
.
Kalimat B membuat orang jadi tidak terlalu defensif ketika memang dia berbuat salah. Serta meredakan potensi timbulnya konflik.
.
.
Kedua, kalimat ini mengajarkan kita untuk mengungkapkan dan mengidentifikasi apa yang sebenarnya kita rasakan terkait perilaku negatif yang orang lain lakukan kemudian kita ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini jauh lebih baik daripada marah-marah tidak jelas bahkan kasar.
.
.
Jika kita membatasi hanya bilang NO pada hal-hal yang memang nyata membahayakan bayi atau anak tentu efeknya akan lebih didengar saat kita bilang NO suatu waktu. Tetapi jika hampir setiap saat kita bilang NO, anak jadi “kebal” dan menurutnya “ah memang setiap saat bunda-ayah selalu bilang NO kok, bahaya atau pun tidak bahaya”. .
.
Selain itu, saat bayi terlalu sering dilarang, ia menjadi agak ragu untuk mengeksplorasi dan mungkin berkurang rasa ingin mencoba-coba berbagai hal baru sendiri atau secara mandiri. Bayi “menyerah” atau sebal karena terlalu sering dilarang.
.
.
Jd pastikan kita mengirit bilang NO demi kemauan bayi mencoba dan mencari tahu sendiri hal-hal baru di lingkungannya.

Psikolog Anak dan remaja @devisani


Posted By

0 comments