ANAKKU MOGOK SEKOLAH

Seorang anak bernama K sekolah di TK. Namun semal sebelum hari pertama masuk sekolah, K terbangung beberapa kali karena mimpi buruk. Pagi hari, saat akan pergi sekolah, ia menangis dan memohon pada ibunya agar tidak pergi sekolah. Dia memeluk kaki ibunya dan tidak melepaskan. Sejak itu, setiap pagi K sulit sekali diajak sekolah dan semua anggota keluarga mulai merasa terganggu dengan keadaannya.
.
.
Ibu K kemudian melakukan konsultasi online yang singkat dengan Psikolog Anak. Psikolog menjelaskan bahwa dari sudut pandang K, tentulah amat sulit berpisah dengan ibu setelah sejak bayi hingga sekarang mulai playgroup ia selalu bersama ibu dalam kesehariannya. Perubahan hidup besar seperti mulai sekolah dan kehilangan orang yang disayangi dapat memberikan stress pada anak sehingga membuatnya lebih cemas ketika harus berpisah dari ibunya. Rasa cemas pada perubahan ini adalah normal.
.
.
Jika hal tersebut berlanjut cukup lama maka disebutlah dengan school refusal. Anak dikatakan school refusal jika ia merasakan kecemasan terkait sekolahnya. Tetapi jika anak memang tidak mau sekolah karena ingin bolos saja tanpa ada tanda kecemasan sedikit pun, dan sengaja berperilaku negatif , maka ini tidak disebut school refusal. Anak yang mengalami school refusal benar-benar mengalami kecemasan tertentu terkait sekolahnya. Beberapa bisa berkembang menjadi Separation Anxiety Dis.
.
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua adalah meng-acknowledge perasaan anak walaupun terdengar tidak masuk akal. Kita bisa menunjukkan kata-kata seperti “Mama tahu kamu gak suka ya kalau jauh-jauh dari mama”, “Mama tahu kamu takut mama pergi ya”. Hindari mengatakan “Orang gak apa-apa kok dek”. Mengapa acknowledge feeling itu amat sulit dilakukan orangtua Indonesia, karena memang orangtua Indonesia kebanyakan tidak terbiasa membicarakan perasaan. Sayang sekali, padahal hanya dengan satu kalimat ini bisa membuat perasaan anak merasa dimengerti dan ia menjadi lebih enakan dan terventilasi perasaan negatifnya.
.
.
Coba saja kita rasakan, jika kita sedang menangis, kemudian suami menghampiri dan mengatakan “Kamu kesel ya tadi aku...... bla...bla...”, pasti kalau tidak nangisnya jd lebih atau langsung terbuka mengatakan apa yg sebenarnya dirasa karena merasa lega akhirnya ada yang mengerti apa yang kita tangisi.
.
.
Psikolog Anak @devisani



Posted By

0 comments