Anak Yang Memandang Positif Dirinya Lebih Mudah Menjadi Anak Mandiri

Kemampuan motorik dan spasial saya cukup buruk. Saya sering kali nyasar, meskipun sudah berbekal Waze / sistem navigasi lagi.
Untuk urusan motorik, saya ingat waktu saya sekolah dulu, saya sering ditertawakan saat mencoba untuk lompat jauh. Saya tidak pernah bisa melewati rintangan, meskipun yang rendah sekalipun. Cara melompat saya pun aneh. 
Ada masa ketika orang-orang di sekitar saya berkata 'ah masa gitu aja gak bisa?' 'kamu kok kalah sih sama si itu?' dst dst. 
Hal itu membuat saya percaya bahwa saya gak bisa apa-apa dan hal itu membuat saya sedih. Saya sempat minder. Namun akhirnya seiring berjalannya waktu, saya tahu walaupun ada beberapa kemampuan saya yang buruk, saya juga punya kemampuan yang dapat saya banggakan.
.
.
Saat saya mendapatkan klien anak-anak yang kurang percaya diri, saya kembali teringat saat-saat itu. Anak-anak, terutama anak usia dini, sangat mengagumi orang tuanya. Ditambah lagi kognitif mereka yang masih terbatas. Membuat anak-anak akan percaya apapun yang dikatakan orang tuanya. Orang tuanya bilang bahwa kuda bisa terbang, ia akan percaya. Anak tidak akan berpikir lebih jauh bahwa untuk terbang membutuhkan sayap, dan kuda tidak punya sayap. Begitupun jika orang tua bilang anak nakal, sedari anak kecil. Anak juga akan percaya dan membawa konsep diri negatif itu sepanjang hidupnya. 
.
.
Bersyukur jika anak memiliki positif dan ia bisa merubah mindsetnya bahwa ia memiliki kelebihan juga, di luar kekurangan. Tapi kalau tidak? Ia akan selamanya memiliki konsep diri negatif 😢 .
Untuk mencegah hal itu, orang tua bisa sedari dini memuji anak secara spesifik atas kemampuan positifnya. Sehingga anak pun menjadi pribadi yang memiliki konsep diri positif. Mengetahui walau ia punya kekurangan, ia juga memiliki kelebihan yang dapat ia banggakan. Dengan pemahaman ini, ia akan lebih percaya kalau bisa melakukan sst sendiri atau jadi mandiri
.
.
Psikolog Anak Devi Raissa M.Psi,Psikolog.


Posted By

0 comments