Kemandirian Anak Bisa Dilihat Dari Interaksi Dengan Guru Dan Temannya

Anak saya akhir-akhir ini suka menangis jika diisengi oleh kaka sepupunya. Melihat hal ini saya kemudian mengajarkan dia untuk mampu membela dirinya sendiri jika ada yang ganggu dan langsung bilang “STOP!! Jangan ganggu aku! Aku gak suka!!”. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk ngajarinnya mengapa? Karena anak saya juga ada masalah sensori yang menyebabkan kemampuan bahasa dan bicaranya belum terlalu lancar untuk anak seusia dia.
.
.
Beberapa kali diajarkan, ia masih suka menangis lama dan mengadu ketika diledek. Setiap kali kejadian, saya berusaha ada disampingnya dan ingetin “Bilang apa kalau diganggu nak? Yg mama ajarin kemaren. Yuk sama-sama bilang: STOP Jgn ganggu aku dst....”. Setelah itu selalu ya mamanya yang psikolog anak / ibu rumah tangga ini gak lupa kasih pujian SPESIFIK “Pinteeerr, bisa bilang kalu gk mau diganggu, kerenn”. Saya memuji perilakunya/ akhlaknya secara spesifik jadi dia tahu perilaku apa yg diharapkan. Konsep ini diambil dari PCIT (Parent-Child Interaction Training) dan PET (Parent Effectiveness Training). Kemudian hari-hari berikutnya, ia bisa secara mandiri membela dirinya. Tapi sesekali juga masih dibantu atau nangis dulu. Namanya juga anak2 ya.😊😂
.
.
Nah, membentuk kemandirian bisa juga dengan memuji secara spesifik ini. Contoh pujiannya “pinter adek bisa ambil minum sendiri”, “pinter ade udah bisa pipis sendiri”, dan masiiihh banyak lagi hal lain yg bisa kita puji, asalkan tidak berlebihan. Pujilah prosesnya, tidak melulu hasilnya. Kalau ibu ayah contoh pujian spesifik yang suka diberikan apa? 
.
.
Psikolog Anak Devi Sani,M.Psi,Psi @devisani .



Posted By

0 comments