Mengelola Emosi sejak Bayi

Mengelola Emosi sejak Bayi
Pernah gak rasanya lagi jengkel dengan pasangan sampai nangis? Udah nangisnya santai sampai nangisnya agak dikencengin dikit teteeep aja dicuekin (kasian yaa) bahkan ditanyain "kenapa?" aja enggak. Apalagi disamperin lalu kemudian ditepuk-tepuk ditenangkan. Rasanya makin dongkol gak sih ????????. Terlebih jika kita menganggap pasangan halal itu adalah sumber rasa tenang kita. Nah sumber rasa tenang yg harusnya memberi tenang malah ketika itu menjadi bagian sumber rasa gundah kita. . Sama dengan bayi. Makhluk yg baru saja hidup di dunia ini menangis untuk berkomunikasi pada orangtua, sumber rasa amannya. Jika tangisannya malah dicuekin atau dianggap sebagai manipulasi ("ah jgn dengerin tangisannya, nanti jadi kolokan") ia akan bisa membangun pemikiran "Ya ampun aku udh minta tolong gini, dari mulai minta tolong pake tangisan biasa hingga keras, kok gak ada respon yaa? Kok gak ada yg menolong aku ya". . Jika kita secara rutin tidak memperdulikan tangisan bayi, maka bayi ini dapat menumbuhkan pemahaman negatif bahwa dunia tempat aku tinggal ini bukanlah tempat yg aman. Beda dengan bayi yg tangisannya lebih sering ditanggapi dengan kehangatan orangtuanya. Bayi akan membangun pemahaman "wah kalau aku minta tolong, ada yang siap sedia bantu aku beri aku rasa aman. Aku nyaman sekali. Kalau aku gak nyaman tidak ap, ada yang menenangkan aku". . Bayi mulai belajar menenangkan dirinya. Awalnya dgn orangtua. Lama-kelamaan dia tau oh seperti ini toh rasanya aman dan nyaman. Kemudian karena sudah tahu rasanya, ia mulai belajar sendiri caranya untuk merasa nyaman, self-soothing. Lama-kelamaan pun nangisnya jadi lebih pendek dan lebih mudah ditenangkan. Sama dengan jika pasangan bisa menenangkan kekesalan kita ya. Ribut antar pasangan pun jadi lebih cepat terselesaikan dibandingkan jika pasangan hanya cuek-cuek saja. ????????

Posted By

0 comments